Penebangan legal dan ilegal


West Kalimantan illegal logging - credit Rhett Butler

Penyebab langsung – Penebangan legal dan ilegal

Penebangan yang dimaksud meliputi menebang pepohonan dan menjual balok kayu yang digunakan sebagai potongan kayu dalam konstruksi, untuk berbagai produk kayu manufaktur seperti mebel, dan untuk membuat bubur kayu yang digunakan untuk memproduksi kertas dan berbagai produk kertas seperti tisu dan kertas karton. Penebangan dikenali sebagai salah satu penyebab paling signifikan terhadap hilangnya dan degradasi hutan di Indonesia. Dari sekitar 6,6 juta hektar hutan yang dirusak di Indonesia antara tahun 2000 dan 2010, konsesi penebangan terhitung menghabiskan 1,8 juta hektar, dan ekspansi perkebunan dengan pepohonan cepat tumbuh untuk menghasilkan bubur kayu sebanyak 1,9 juta hektar.

Skala isu ini ditandai oleh kontribusi signifikan yang diberikan oleh sektor ini pada perekonomian nasional. Pada tahun 2009, nilai hutan yang dikombinasikan (kehutanan dan pemungutan hasil), manufaktur kayu, dan industri bubur kayu dan kertas diperkirakan bernilai 20 milyar dolar AS, atau kasarnya sekitar 3,5 persen dari Produk Domestik Kotor Indonesia. Dari sini, kehutanan berkontribusi 5,1 milyar dolar AS (0,8 persen dari PDB), kayu dan manufaktur kayu 9 milyar dolar AS (1,4 persen dari PDB), dan industri bubur kayu dan kertas 6,9 milyar dolar AS (1,2 persen dari PDB). Pada tahun 2010, produk kayu dan bubur kayu dan kertas merepresentasikan sekitar 6 persen dari total ekspor dan 9 persen dari ekspor non-mineral. Indonesia sekarang ini adalah produsen bubur kayu terbesar kesembilan di dunia dan produsen kertas ke-11 terberas dengan ekspor kombinasi senilai lebih dari 2 milyar dolar AS pada tahun 2013. Diperkirakan bahwa sekitar 90 persen kayu yang dikonsumsi oleh industri bubur kayu dan kertas diambil dari hutan-hutan asli, bukan hutan hasil ditanami.

Penebangan liar, yang jauh lebih merusak daripada penebangan legal, masih meraja lela di Indonesia dan membuat asesmen yang tepat terhadap akibat-akibat sosial atau lingkungan hidup dari penebangan menjadi sulit. Pada tahun 1998, suatu studi kerja sama Inggris-Indonesia memperkirakan bahwa sekitar 40 persen penebangan di sektor ini liar. Pada tahun 2006, Bank Dunia menemukan bahwa hingga dua pertiga produksi berdasarkan pada sumber-sumber kayu dugaan atau tidak didokumentasi, yang mewakili kerugian negara sebesar 3 milyar dolar AS setiap tahun. Pada tahun 2011, Human Rights Watch menilai kerugian akibat penebangan liar (seperti kehilangan dalam upah menebang kayu tanpa izin yang benar, dari penggunaan angka-angka yang dibuat rendah dalam menghitung royalti, dan dari upah yang tidak dikumpulkan) mencapai lebih dari 2 milyar dolar AS.

Lebih jauh lagi dari kerugian negara, peningkatan emisi gas rumah kaca, dan kapasitas penyimpanan karbon yang berkurang dari hutan dan lahan gambut, penebangan liar merusak keanekaragaman hayati, dan berkontribusi terhadap erosi lahan dan nutrisi lahan, dan petaka banjir serta longsor yang katastrofik. Membuat penebangan terkendali, dan memastikan bahwa perkebunan bubur kayu hanya dibangun di lahan yang terdegradasi adalah hal yang penting untuk mengurangi kerusakan lingkungan hidup dan melindungi masyarakat dan kehidupan mereka.

Tekanan nasional dan internasionl telah membuat keberhasilan dalam mendorong sejumlah produsen bubur kayu dan kertas terbesar di Indonesia untuk mengurangi aktivitas mereka membersihkan hutan alami dan hanya menggunakan perkebunan yang ada dan lahan yang terdegradasi untuk produksi. Skema-skema sertifikasi, seperti Sistem Verifikasi Legal Kayu (SVLK), yang baru mulai pada September 2010, juga memiliki peran penting. SVLK mensyaratkan semua produsen dan pengolah kayu diaudit terhadap perangkat standar untuk menjamin legalitas. Pemahaman yang lemah terhadap skema ini menandakan bahwa verifikasi ini masih belum sepenuhnya diterapkan, namun memastikan bahwa peralatan baru ini untuk memonitor komitmen para sektor swasta diberlakukan, bahwa komitmen yang ada terhadap keberlanjutan disepakati, dan bahwa para perusahaan penebangan memperbaiki pendekatan-pendekatan mereka, sangat penting untuk menahan laju kehilangan hutan Indonesia yang sangat mengkhawatirkan.