Aceh


SEKILAS TENTANG ACEH

Luas lahan 5.675.729 hectares
Cakupan hutan dan lahan gambut 62% (3.557.916 ha)
Luas wilayah yang dilindungi 1.840.000 ha (51% dari total tutupan hutan)
di ekosistem Leuser dan Hutan Rawa Gambut Tripa
Signifikansi Keanekaragaman hayati Rawa Gambut Tripa adalah penyedia karbon terbesar di Aceh, dan rumah bagi salah satu dari enam populasi Orang Utan Sumatera yang masih tersisa dan terancam punah.
Ekosistem Leuser merupakan kompleks hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia dan merupakan habitat bagi 54% spesies asli Asia
Aktivitas utama ekonomi
  • 23% dari GDP: pertanian, kehutanan dan perikanan
  • 20%: pertambangan dan penggalian (gas alam dan batu bara)
  • Jasa, perdagangan dan retail
  • Tanaman perdagangan dan perikanan menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat lokal
Ancaman bagi hutan dan lahan gambut Resmi dan illegal:

  • Penebangan
  • Pertambangan (minyak, gas alam, emas, tembaga)
  • Pembukaan lahan dan pembakaran lahan untuk perkebunan kelapa sawit, pulp dan perkebunan lainnya

rain forest in  Aceh

Hutan hujan di Aceh

Tentang Aceh

Aceh adalah propinsi Indonesia yang terletak di bagian barat, yang merupakan ujung utara pulau Sumatera. Beragam jalur air di Aceh mengalir ke Samudera Hindia dan Selat Malaka, yang berbatasan dengan propinsi di tiga sisi. Daratan Aceh sebagian besar merupakan pegunungan dengan puncak tertinggi adalah Gunung Leuser dengan ketinggian 3.000 meter di atas permukaan laut. Hutan hujan tropis menutupi dataran tinggi dan rawa yang secara ekologis kaya dan terletak di daerah dataran rendah.

Keanekaragaman hayati

Ekosistem Leuser dianggap sebagai salah satu ekosistem yang beragam di dunia dan merupakan jenis yang terakhir di Asia Tenggara. 2,6 juta hektar hutan hujan lebatnya merupakan rumah bagi harimau, gajah, badak dan 92% bagi Orangutan Sumatera yang masih tersisa. Fauna yang terdapat di Ekosistem Leuser juga sama-sama unik, menonjolkan lebih dari 4.000 spesies tanaman termasuk bunga-bunga yang terbesar dan tertinggi di dunia. Tiga kawasan lahan gambut di Aceh, memiliki kedalaman 5 meter, penting sekali bagi penyerapan jutaan ton karbon dioksida. Sekitar 4 juta orang bergantung pada tiga saluran air terbesar Leuser dan tanah yang kaya akan organisme hidup (bio-rich soil).

Ekonomi Aceh

Dalam beberapa tahun terakhir pertanian telah menjadi sektor terbesar bagi perekonomian Aceh, melampaui industri pertambangan dan budidaya. Ekspor utama meliputi karet, kelapa, kopi dan buah pala, dengan minyak kelapa sawit mentah yang menjadi andalan. 300.000 ton minyak kelapa sawit mentah diproduksi setiap tahunnya di Aceh, jumlah tersebut baru di Aceh saja dan Indonesia merupakan produsen tertinggi dunia. Budidaya produk-produk ini, beberapa diantaranya termasuk pinang dan buah–buahan, memasok pendapatan bagi lebih dari 70% masyarakat yang tinggal di pedalaman Aceh. Bagi masyarakat pesisir, perikanan merupakan mata pencaharian utama.

Meskipun demikian, Aceh tetap merupakan salah satu penghasil cadangan minyak dan gas alam terbesar di Indonesia, dan pertambangan minyak bumi, emas serta sumber – sumber lainnya yang memberi kontribusi lebih dari seperempat perekoniman Aceh. Pertambangan emas skala kecil juga merupakan hal yang umum di Aceh. Penebangan liar terjadi pada skala yang besar dengan perkiraan 85% kayu di pasar Aceh berasal dari penebangan hutan ilegal.

Ancaman bagi hutan dan keanekaragaman hayati

Aceh kehilangan 20.000 ha hutan setiap tahunnya disebabkan oleh perkebunan kelapa sawit, penebangan, pertanian dan pertambangan. 520.000 ha kawasan hutan lindung telah hancur atau rusak. Tingkat penebangan hutan di Ekosistem Leuser adalah 5.500 ha per tahunnya dan hanya 12.267 ha dari awalnya 60.000 ha masih terdapat di Rawa Gambut Tripa. Potensi kehilangan ekosistem yang bernilai ini akan menyebabkan punahnya berbagai spesies tanaman dan hewan termasuk Orangutan Sumatera, dan meningkatkan kekeringan dan bajir di wilayah tersebut.

newly planted in Aceh

Perkebunan kelapa sawit yang baru ditanam di Aceh